WELCOME TO OFFICIAL WEBSITE LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA (LDII) KABUPATEN BUNGO

LDII Temui Presiden RI

"Perbincangan Dengan Presiden RI - Joko Widodo"

BSI - LDII BUNGO

Tindak Lanjut MoU BSI dan LDII

Kesbangpol dan LDII Bungo

Kesbangpol Ikuti Webinar Kebangsaan Bersama LDII Bungo

NU - LDII

"LDII Bungo Hadiri Undangan Peringatan Harlah NU"

Kerja Bakti Nasional

DPD LDII Kab. Bungo Laksanakan Kerja Bersama Bhakti Untuk Negeri

LDII Kabupaten Bungo Hadiri Harlah 1 Abad NU

Kab. Bungo (15/2) Pengurus DPD LDII Kabupaten Bungo menghadiri Undangan peringatan HARLAH 1 Abad NU yang di laksanakan di Lapangan Tambunan , Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Dalam kesempatan itu hadir Ketua DPD LDII Kabupaten Bungo di dampingi jajaran pengurus yang lain. Ketua DPD LDII Kabupaten Bungo H. Darto menyampaikan bahwa LDII dan NU sudah menjalin hubungan yang sangat baik dan sudah sepakat untuk membina ukuwah dan merawat kebinekaan dalam keberagaman. Selain itu H. Darto juga menyampaikan terima kasih kepada NU yang telah berpartisipasi 1 abad membangun bangsa dan membina umat. "NU adalah ormas yang sangat solid dan menjadi inspirasi ormas lain dalam membina umat termasuk LDII" Ujar H. Darto.
Semoga kedepannya LDII dan NU bisa menjadi ormas yang solid dan memberikan kebaikan bagi semua.

Dukung HARLAH 1 Abad NU, LDII Kabupaten Bungo Bagikan Konsumsi dan Air Mineral

Kab. Bungo (15/2) Warga LDII Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo berpartisipasi dalam kegiatan peringatan HARLAH NU yang ke-100 atau satu abad NU.
Warga LDII dengan sukarela memberikan bantuan dan dukungan pada acara HARLAH satu abad NU yang diadakan di lapangan Tambunan Desa Purwasari Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Bungo dengan membagikan konsumsi dan membagikan air mineral kepada peserta peringatan HARLAH 1 abad NU. Koordinator Relawan LDII Ahmad Suparno Menyampaikan diharapkan dengan adanya dukungan dari LDII ini acara bisa dapat berjalan dengan lancar dan juga dapat menjalin ukhuwah antara LDII dan NU ke depannya menjadi semakin kokoh dan semakin solid. "Kami warga LDII dengan suka rela membantu kesuksesan acara HARLAH 1 Abad NU, bentuk dukungan yang kami lakukan yaitu membantu membagikan konsumsi dan air mineral sebanyak 1000 botol" Ujar Parno.
Sementara itu Panitia Penyelenggara Peringatan HARLAH satu abad NU mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada warga LDII khususnya para relawan LDII dari PC LDII Kecamatan Pelepat Ilir dan DPD LDII Kabupaten Bungo yang sudah berpartisipasi membantu mensukseskan acara peringatan harlah satu abad NU ini.

PERSINAS ASAD KABUPATEN BUNGO GELAR PASANGGIRI

Walau masa pandemi belum usai,namun tidak menyurutkan semangat Pengurus Kabupaten Perguruan Pencak Silat Nasional ( PERSINAS ) ASAD Bungo untuk melanjutkan program tahunan yang tertunda akibat pandemi yang belum juga usai. Seiring berjalannya waktu dan semakin membaik kondisi di masa pandemi, semakin banyak warga masyarakat yang telah divaksin dan disiplin warga masyarakat untuk terus menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu setelah kondisi sudah semakin membaik Pengurus Kabupaten PERSINAS ASAD Bungo mengadakan kejuaraan PASANGGIRI yang diselenggarakan di Dusun Purwasari Kec. Pelepat Ilir pada hari minggu (31/10/2021) dan diikuti oleh warga PERSINAS ASAD Kecamatan Pelepat dan Pelepat Ilir sebanyak 250 atlet. Kategori yang dipertandingkan adalah ATT dan Berpasangan. Dalam sambutannya H. Sukidi selaku Ketua PERSINAS ASAD Bungo menuturkan "Sebaiknya setiap atlet yang bertanding agar rajin dalam berlatih, agar bisa berprestasi, karena ini adalah awal dari kejuaraan-kejuaraan yang akan datang, jangan mudah untuk berpuas diri dengan apa yang dicapai pada saat ini". "Tujuan diadakan acara PASANGGIRI adalah agar setiap warga ASAD selalu bangga dengan budaya pencak silat yang merupakan beladiri asli Indonesia,sehingga pencak silat bisa terus lestari"tutup Sukidi dalam sambutannya.

LDII Ingatkan ada Ideologi Berpotensi Runtuhkan Pancasila Selain Komunisme

 Jakarta (30/9). Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap Oktober, merupakan pengingat bahaya komunisme yang melakukan kudeta pada 30 September. Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam gerakan itu menculik tujuh jenderal dan beberapa lainnya. Gerakan itu, untuk mengganti ideologi Pancasila dengan komunisme.

“Peristiwa tersebut tercatat jadi sejarah kelam Indonesia modern. Komunisme memang tak tampak lagi, namun sebagai ideologi ia tak kasat m

ata. Jadi, bangsa ini harus terus waspada,” ujar Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso.

Chriswanto juga mengingatkan, bukan hanya komunisme tapi liberalisme bahkan gerakan fundamentalisme berbasis agama tertentu, bisa membahayakan ideologi negara tersebut, “Akibatnya, Pancasila memang masih jadi dasar negara, namun prilaku pejabat publik dan rakyatnya tak lagi Pancasilais,” ujar Chriswanto khawatir.

Menurutnya beberapa waktu lalu, ia dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj bertemu dan bersepakat untuk membendung pengaruh liberalisme dan fundamentalisme, di lingkungan ormas masing-masing, “Ormas-ormas Islam berhadapan dengan dua kutub persoalan, yakni liberalisme yang di antaranya mendorong kebebasan individu, sementara di sisi lain terdapat fundamentalisme yang membuat seseorang tidak toleran terhadap perbedaan,” ujarnya.

Liberalisme menurut KH Chriswanto Santoso pada banyak hal, memiliki kandungan positif. Seperti mendorong seseorang untuk memperoleh haknya dalam kesejahteraan dengan berkompetisi. Namun, bila tak diatur, liberalisme sangat memungkinkan yang kuat akan menggusur yang lemah dalam berbisnis. Selain itu, liberalisme mendorong sifat seperti konsumerisme, yang bila tak dikendalikan berbuah pemborosan dan melakukan segala cara untuk meraih barang yang diinginkan.

“Artinya, komunisme, liberalisme, sosialisme, dan fundamentalisme bukanlah ideologi asli suku-suku di Indonesia. Ideologi-ideologi itu diimpor di sinilah Pancasila dan rakyat Indonesia diuji,” imbuhnya. Bila liberalisme membuat seseorang tak peduli sehingga semangat gotong-royong meluntur. Sementara fundamentalisme mendorong lunturnya sikap toleransi, menghargai, dan menghormati keyakinan lain. Akibatnya, kedamaian dan ketenteraman bisa terusik.

Ia mengingatkan kembali peran ormas Islam untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan karakter bangsa, sebagaimana yang terdapat dalam butir-butir Pancasila, “Pancasila digagas para pendiri bangsa sebagai kompromi, jalan tengah, dan mengambil intisari dari berbagai ideologi. Bahkan, nilai-nilai luhur bangsa Indonesia terhimpun di dalamnya. Inilah yang membuat bangsa Indonesia terus bersatu,” ujar Chriswanto.

Memperkokoh Kesaktian Pancasila
Pancasila dapat terus dikuatkan, bilamana ideologi tertentu tidak menggantikan Pancasila. Menurut Ketua DPP LDII Singgih Tri Sulistiyono yang juga Guru Besar Sejarah Universitas Diponegoro (Undip), Pancasila jangan sampai berhenti pada tataran verbal, tetapi juga diamalkan.

“Dalam kontruksi keindonesiaan, yang pertama adalah bahwa sila pertama dari Pancasila harus menjadi pondasi sekaligus mewarnai sila-sila yang lain. LDII juga berpendapat sila pertama tidak dijadikan bingkai, tetapi sebagai pondasi,” ujarnya.

Menempatkan sila pertama Pancasila sebagai bingkai atau wadah, sangat berisiko mendorong pihak-pihak yang memiliki ideologi tertentu, mengubah ideologi negara. Hal tersebut, bisa menjadi bibit konflik yang berkepanjangan karena kondisi bangsa dan negara yang plural, baik dari sisi agama maupun kepercayaan. “Maka agama harus ditempatkan sebagai fundamen bukan wadah,” ujar Singgih.

Kedua, dengan memahami sifat dan jiwa yang tergali dalam sejarah lahirnya Pancasila, menurut Singgih yang patut untuk menjadi bingkai dari konstruksi keindonesiaan adalah sila Persatuan Indonesia, “Dengan demikian, rumusannya adalah apapun agama yang dipeluk (sesuai Sila Pertama), apapun aktualisasi kemanusiaan yang dilakukan (Sila kedua), bentuk demokrasi apapun yang dijalankan (Sila keempat) dan model keadilan yang dibayangkan (Sila kelima) tetap dalam bingkai persatuan Indonesia atau NKRI (Sila ketiga),” ulasnya.

Dengan demikian, pemikiran pemikiran mengenai memperkokoh Pancasila dapat disimpulkan bahwa sila pertama adalah pondasi, sila ketiga sebagai bingkai, sila kelima sebagai tujuan, maka sila kedua adalah aspek kemanusiaan, sila keempat megenai demokrasi sebagai semangat dan cara mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Kelima sila tersebut tidak bisa dibeda-bedakan, bahkan saling melengkapi.

Bila dikristalisasi, menurut Singgih, bangsa Indonesia tanpa Pancasila akan rapuh. Mengapa? Karena tidak punya pondasi religiusitas yang kuat sebagaimana sila pertama, dan bangsa Indonesia bercerai-berai karena tidak ada bingkai yang jelas seperti sila ketiga. Bangsa Indonesia juga kehilangan arah karena tidak punya tujuan yang jelas, sesuai sila kelima.

Bahkan tanpa Pancasila, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak beradab, karena tidak punya kemanusiaan, tidak memiliki gotong-royong, karena tidak ada sila kedua dan keempat. (kim/*)

Ketua DPRD Kabupaten Bungo Beri Ucapan Selamat Munas LDII ke IX Tahun 2021

 


    Ketua DPRD Kabupaten Bungo Jumari Ari Wardoyo mengucapkan selamat MUNAS yang ke 9 tahun 2021 untuk LDII, harapan beliau semoga LDII bisa terus berkontribusi membangun bangsa sebagai salah satu komponen bangsa dan beliau juga mengucapkan selamat dan semoga acara MUNAS LDII Ke 9 Tahun 2021 dapat berjalan dengan sukses.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Siap Berikan Pembekalan Munas IX LDII

 



Jakarta (9/3). DPP LDII akan menyelenggarkan musyawarah nasional ke-9 (Munas IX) pada 7-8 April 2021 di Padepokan Persinas ASAD, Pesantren Minhajurrosyidin, Jakarta Timur. Acara munas tersebut akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo, dan diikuti para peserta secara daring dan luring mengingat kondisi masih pandemi Covid-19.

Munas akan diikuti sekitar 3.500 peserta secara daring di sekitar 450 titik studio mini yang tersebar di seluruh Indonesia, sedangkan luring hanya diikuti oleh sekitar 114 peserta dengan menerapakan protokol kesehatan yang ketat.

Selain itu Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo juga siap memberikan pembekalan kepada seluruh peserta Munas IX LDII nanti, yang ia tuturkan dalam pertemuannya dengan jajaran pengurus LDII pada Selasa (9/3) di Kantor DPP LDII.

Listyo Sigit Prabowo menanggapi positif dan siap bekerjasama dengan LDII terkait dengan 8 bidang program pengabdian LDII untuk bangsa yang dipaparkan oleh Chriswanto Santoso dalam pertemuan itu. Delapan bidang itu adalah, kebangsaan, dakwah, pendidikan, ketahanan pangan dan lingkungan hidup, ekonomi, kesehatan herbal, teknologi, dan eneri baru terbarukan.

Pencarian